Translate

Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Oktober 2012

Ibadah qurban menurut saya dan maknanya

 sebelum membaca liat video dibawah ini dulu ya :) 

 kalo ada yang mau tau apa itu KAD klik aja disini



Perintah Qurban
Dalam Al-Quran dalam Surat Al-Maidah : 27, Ash-Shaffat : 102 – 107 dan Al-Kautsar : 2 yang berbunyi : “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” Dan Ibadah Kurban merupakan pembuktian kecintaan dan keikhlasan kita kepada sang Khaliq.

Sejarah Kurban
Ibadah kurban memiliki sejarah yang begitu panjang. Allah SWT telah memerintahkan ibadah kurban kepada umat manusia, sejak zaman Nabi Adam AS. Perintah kurban mulai diperintahkan kepada dua putra Nabi Adam AS, yakni Habil yang berprofesi sebagai petani dan Qabil seorang peternak. Keduanya diminta untuk berkurban dengan harta terbaik yang mereka miliki.

Peristiwa kurban dua anak manusia itu dikisahkan dalam Alquran surat al-Maaidah ayat 27. Allah SWT berfirman, ”Dan ceritakanlah (Muhammad) kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.”
Seiring bergulirnya zaman, perintah berkurban juga diterima Nabi Ibrahim AS. Setelah melalui penantian yang begitu lama, Ibrahim akhirnya dikaruniai seorang putra bernama Ismail, dari istrinya bernama Siti Hajar. Ia pun begitu gembira dan bahagia. Kebahagiaannya memiliki seorang putra, kemudian diuji oleh Allah SWT.
Saat berusia 100 tahun, datanglah sebuah perintah Allah SWT kepadanya melalui sebuah mimpi. ”…Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu..?” (QS: as-Saffat:102). Dengan penuh keikhlasan, Ismail pun menjawab, ”…Wahai Ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepada mu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS:as-Saffat:102).
Kemudian, Nabi Ibrahim AS membawa Ismail ke suatu tempat yang sepi di Mina. Ismail pun mengajukan tiga syarat kepada sang ayah sebelum menyembelihnya. Pertama, sebelum menyembelih hendaknya Nabi Ibrahim AS menajamkan pisaunya. Kedua, ketika disembelih, muka Ismail harus ditutup agar tak timbul rasa ragu dalam hatinya. Ketiga, jika penyembelihan telah selesai, pakaiannya yang berlumur darah dibawa kepada ibunya, sebagai saksi kurban telah dilaksanakan.
”Maka tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Lalu Kami panggil dia, ‘Wahai Ibrahim!’ sesunggu engkau telah membenarkan mimpi itu…” (QS: as-Saffat ayat 103-104). Ketika pisau telah diarahkan ke arah leher Ismail, lalu Allah SWT menggantikannya dengan seekor domba yang besar.
”Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” Atas pengorbanan Ibrahim AS itu, Allah SWT berfirman, ”Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Selamat sejahtera bagi Ibrahim. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS: as-Saffat:108-109).
Waktu Qurban
Ibadah kurban pun menjadi salah satu unsur syariat Islam, yang dilaksanakan oleh umat Muslim yang mampu pada setiap Hari Raya Idul Adha dan tiga hari setelahnya (hari tasyrik), yakni tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzul Hijjah.

Makna Qurban
Lalu apa makna dari perintah berkurban? Melaksanakan ibadah kurban tidak semata-mata ibadah yang berhubungan dengan Sang Pencipta, namun lebih bermakna sosial. Inti pesan ibadah kurban adalah solidaritas, kepedulian kepada orang yang membutuhkan. Hanya sedikit dari orang banyak yang sadar. Hanya sedikit dari orang yang sadar itu yang mau berjuang. Dan hanya sedikit dari yang berjuang itu yang mau berkurban.

Pengorbanan sesungguhnya bukan hanya harta benda, melainkan juga jiwa, raga, hati dan pikiran yang semata-mata karena Allah. Seorang yang beriman, akan memberikan sesuatu yang paling dicintainya kepada Allah SWT, seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim AS.
Kriteria hewan Kurban
Qurban memiliki beberapa syarat yang tidak sah kecuali jika telah memenuhinya, yaitu.
[1]. Hewan qurbannya berupa binatang ternak, yaitu unta, sapi dan kambing, baik domba atau kambing biasa.
[2]. Telah sampai usia yang dituntut syari’at berupa jaza’ah (berusia setengah tahun) dari domba atau tsaniyyah (berusia setahun penuh) dari yang lainnya.
-unta adalah yang telah sempurna berusia lima tahun
-sapi adalah yang telah sempurna berusia dua tahun
-kambing adalah yang telah sempurna berusia setahun
-adalah yang telah sempurna berusia enam bulan
[3]. Bebas dari aib (cacat) yang mencegah keabsahannya, yaitu apa yang telah dijelaskan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
-Buta sebelah yang jelas/tampak
-Sakit yang jelas.
-Pincang yang jelas
-Sangat kurus, tidak mempunyai sumsum tulang
-Dan hal yang serupa atau lebih dari yang disebutkan di atas dimasukkan ke dalam aib-aib (cacat) ini, sehingga tidak sah berqurban dengannya, seperti buta kedua matanya, kedua tangan dan kakinya putus, ataupun lumpuh.
[4]. Hewan qurban tersebut milik orang yang berqurban atau diperbolehkan (di izinkan) baginya untuk berqurban dengannya. Maka tidak sah berqurban dengan hewan hasil merampok dan mencuri, atau hewan tersebut milik dua orang yang beserikat kecuali dengan izin teman serikatnya tersebut.
[5]. Tidak ada hubungan dengan hak orang lain. Maka tidak sah berqurban dengan hewan gadai dan hewan warisan sebelum warisannya dibagi.
[6]. Penyembelihan qurbannya harus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan syariat. Maka jika disembelih sebelum atau sesudah waktu tersebut, maka sembelihan qurbannya tidak sah
[Lihat Bidaayatul Mujtahid (I/450), Al-Mugni (VIII/637) dan setelahnya, Badaa’I’ush Shana’i (VI/2833) dan Al-Muhalla (VIII/30).
[Disalin dari kitab Ahkaamul Iidain wa Asyri Dzil Hijjah, Edisi Indonesia Lebaran Menurut Sunnah Yang Shahih, Penulis Dr Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar, Penerjemah Kholid Syamhudi Lc, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]

Sabtu, 20 Oktober 2012

KEBIASAAN REMAJA ZAMAN SEKARANG

assalamualaikum wr wb,
kali ini favorite blog mau kasih tau sikap remaja zaman sekarang yg harus kita hindari

”KEBIASAAN REMAJA ZAMAN SEKARANG”
- Kekasih sakit khawatirnya minta ampun.
- Giliran Ibunya sakit ia malah cuek bebek.

- Kekasih ulang tahun bingung milih hadiah.
- Giliran Ibunya ulang tahun memberi selamat pun lupa.

- Kekasih belum makan perhatiannya selangit.
- Giliran Ibunya belum makan dibiarkan saja.

- Kekasih marah galau gak ketulungan..
- Giliran Ibunya marah malah membalas marah.

- Butuh kekasih setiap waktunya.
- Giliran butuh Ibunya kalau ada maunya saja.

Mereka lupa :
- Kalau lagi sakit manggil-manggil IBU..
- Kalau lagi butuh duit minta ke IBU..
- Kalau dimarahin ayah ngadu ke IBU..
- Kalau minta apa aja bilangnya ke IBU..

”TAPI GILIRAN IBU MENINGGAL MEREKA MENANGIS DAN MENYESAL...”
Allahu Allah jauhkan kami dari sifat seperti ini, amin :')

Minggu, 07 Oktober 2012

Kualitas Iman

 assalamualaikum wr wb, mau kasih pengetahuan nih
Kekuatan Iman seseorang, terletak pada mampu dan tidaknya menahan Nafsu atas peluang setitik dosa ketika Sendirian
Dosa besar tidak ada apa apanya kalau dibanding kasih sayang Alloh. Tapi setitik dosa kecil menjadi Petaka besar ketika dihadapkan dengan Murkanya. Besar kecilnya sebuah Dosa, adalah tindakan ketidak sopanan seorang hamba terhadap pencitanya yang akam mejadi Karma pada dirinya

Minggu, 23 September 2012

4 perbedaan kata AMIN

Dalam bahasa Arab Ada 4 perbedaan kata "AMIN", yaitu:
1. "AMIN" (alif & mim sama" pendek) artinya: AMAN, TENTRAM
2. "AAMIN" (alif pjg & mim pendek) artinya: MEMINTA PERLINDUNGAN KEAMANAN
3. "AMIIN" (alif pendek & mim pjg) artinya: JUJUR TERPERCAYA
4. "AAMIIN" (alif & mim sama" pjg) artinya: YA TUHAN KABULKANLAH DOA KAMI

Bagamana dengan "AMIEN"? Amien lazim dilafalkan oleh penyembah berhala (paganisme), berasal dari dewa matahari mesir kuno yaitu Amien-Ra ato Amun-Ra.
InsyaAllah mudah-mudahan bermanfaat untuk semua, Aamiin.

___________________________________________
jangan lupa like fans page kami dan jangan lupa baca-baca iklan yang ada ya

Sabtu, 15 September 2012

Pengaturan Haid Selama Ibadah Haji

Ibadah haji merupakan salah satu ibadah penting dan ditunggu-tunggu umat Islam. Untuk dapat melakukan seluruh ibadah dan kegiatan selama di tanah suci, jemaah haji wanita bisa melakukan penundaan haid dengan obat hormonal.

Penundaan dan pengaturan siklus haid bisa dilakukan dengan obat-obatan yang mengandung kombinasi hormon estrogen dan progesteron atau obat yang mengandung progesteron saja.

Menurut spesialis kebidanan dan kandungan Dr.Dwiana Ocviyanti, Sp.OG(K), penunda menstruasi yang paling efektif dan terjangkau harganya sebenarnya adalah pil kontrasepsi. "Pil ini merupakan pil kombinasi. Bisa diminum sebulan sebelum keberangkatan dengan dosis rendah," katanya dalam acara seminar bertajuk 'Sehat dan Bugar Selama Melaksanakan Ibadah Haji' di FKUI/RSCM, Kamis (13/9/12).

Haid terjadi karena adanya penurunan kadar hormon progesteron setelah terjadinya ovulasi (keluarnya sel telur). Turunnya hormon tersebut menyebabkan lapisan bagian dalam dinding rahim (endometrium) terlepas sehingga pembuluh darah di belakangnya terbuka.

"Obat penunda haid bekerja dengan mempertahankan kadar hormon sehingga endometrium tidak lepas. Jadi bukannya darah kotor terkumpul di rahim," papar dokter yang akrab disapa dr.Ovi ini.

Untuk pengaturan haid, pertama-tama harus memeriksakan diri ke dokter, upayakan kurang dari sebulan sebelum tanggal keberangkatan. Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi kelainan pada organ reproduksi atau kondisi lain yang bisa menimbulkan komplikasi bila memakai obat.

"Nantinya dokter akan memberikan obat yang paling sesuai dengan kondisi kesehatan pasien dengan mempertimbangkan faktor usia dan sejarah penyakit," katanya.

Dia menambahkan, ada beberapa kondisi yang tidak boleh menggunakan obat hormon pengatur haid, misalnya jika ada riwayat sakit kepala hebat atau migren, kanker payudara, varises berat, perdarahan dari vagina yang belum diketahui penyebabnya, serta adanya penyakit fungsi hati.

Penggunaan obat pengatur haid juga sering menyebabkan efek samping seperti rasa mual, sakit kepala, atau nyeri pada payudara. Pada obat yang mengandung progesteron saja biasanya sering muncul bercak darah (spoting).

"Efek samping itu bisa diatasi dengan cukup banyak minum air putih dan banyak bergerak supaya metaboliknya lebih lancar," katanya.

Obat penunda haid terbilang aman dan idealnya mulai digunakan pada hari kedua hingga kelima haid atau selambatnya 14 hari sebelum hari pertama haid yang ingin ditunda. Penggunaan pil harus teratur dan diminum pada waktu yang sama. Pil boleh dihentikan segera setelah penundaan haid tidak diperlukan dan haid akan datang sekitar 2-3 hari kemudian.

Persiapan Naik Haji Bagi Lansia

Rangkaian kegiatan ibadah haji memerlukan fisik dan mental yang kuat. Bagi jemaah haji yang sudah tergolong lanjut usia (lansia) diperlukan persiapan khusus supaya kesehatan dan ketahanan fisik selalu prima.

Selama 6-7 hari melakukan rukun utama haji, jemaah harus bergerak aktif sejauh lebih dari 96 kilometer. Aktivitas fisik yang tinggi pada jemaah haji bisa menurunkan tingkat ketahanan jantung atau pernapasan, serta otot-otot dan tulang yang bisa menyebabkan kelelahan.

"Jemaah haji yang berusia di atas 60 tahun lebih rentan infeksi, cedera, mengalami masalah psikologis, serta memerlukan bantuan khusus," kata dr.Nina Kemala Sari, Sp.PD, dari divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM di Jakarta (13/9/12).

Selain faktor usia dan rendahnya tingkat ketahanan fisik, para lansia juga memiliki bentuk telapak kaki yang datar atau leper sehingga mereka mudah lelah jika berjalan atau berdiri terlalu lama.

Bila kaki terlalu leper maka akan sulit saat melangkah karena fungsi lain kaki sebagai sistem pengungkit tidak berfungsi maksimal. Dalam keadaan itu dibutuhkan kontraksi otot yang lebih kuat untuk mengangkat tubuh. Jika fisik tidak terlatih maka akan mudah lelah.

"Orang dengan berat badan berlebih juga akan merasa tidak nyaman di tungkai. Penggunaan sepatu yang salah atau aktivitas menapak kaki yang berlebihan akan meningkatkan keluhan ini," kata Nina.

Untuk mendapatkan tubuh yang bugar dan sehat, Nina menyarankan agar jemaah haji yang tergolong lansia menyiapkan diri sejak di tanah air. Latihan bisa dilakukan dengan intensitas ringan namun berlatih teratur.

Latihan kontinyu sebaiknya dimulai minimal tiga bulan sebelum keberangkatan. "Latihan kontinyu yang dilakukan sejak jangka waktu tersebut energinya bisa bertahan 1-2 bulan," katanya.

Dalam berlatih, selalu lakukan pemanasan dan pendinginan. Fungsi pemanasan akan meningkatkan efisiensi sirkulasi darah dan meningktakan fleksibilitas.

Sementara itu untuk mengurangi kelelahan akibat kondisi kaki yang leper, Nina menyarankan agar memilih alas kaki yang memiliki insol (alas di bagian dalam sepatu). Alas kaki demikian akan menghemat energi selama berjalan dan memperbaiki fisiologi kaki sehingga daya ungkit saat berjalan meningkat.

Bagi jemaah haji yang kakinya normal juga sangat bermanfaat karena siklus berjalan menjadi lebih dinamis dan ergonomis sehingga menghemat energi dan terhindar dari kelelahan akibat aktivitas berjalan yang tinggi selama di tanah suci.

Rabu, 12 September 2012

Pengaruh Makanan Yang Haram

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Sebagian muslim tidak mempedulikan apa yang masuk dalam perutnya. Asal enak dan ekonomis, akhirnya disantap. Tidak tahu manakah yang halal, manakah yang haram. Padahal makanan, minuman dan hasil nafkah dari yang haram sangat berpengaruh sekali dalam kehidupan seorang muslim, bahkan untuk kehidupan akhiratnya setelah kematian. Baik pada terkabulnya do’a, amalan sholehnya dan kesehatan dirinya bisa dipengaruhi dari makanan yang ia konsumsi setiap harinya. Oleh karena itu, seorang muslim begitu urgent untuk mempelajari halal dan haramnya makanan. Dan yang kita bahas kali ini adalah seputar pengaruh makanan yang haram bagi diri kita. Moga bermanfaat.
Pertama: Makanan haram mempengaruhi do’a
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ».
Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: 'Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.' Dan Allah juga berfirman: 'Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.'" Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo'a: "Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku." Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do'anya?" (HR. Muslim no. 1015)
Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada Sa’ad,
أطب مطعمك تكن مستجاب الدعوة
Perbaikilah makananmu, maka do’amu akan mustajab.” (HR. Thobroni dalam Ash Shoghir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if jiddan sebagaimana dalam As Silsilah Adh Dho’ifah 1812)
Ada yang bertanya kepada Sa’ad bin Abi Waqqosh,
تُستجابُ دعوتُك من بين أصحاب رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ؟ فقال : ما رفعتُ إلى فمي لقمةً إلا وأنا عالمٌ من أين مجيئُها ، ومن أين خرجت .
“Apa yang membuat do’amu mudah dikabulkan dibanding para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya?” “Saya tidaklah memasukkan satu suapan ke dalam mulutku melainkan saya mengetahui dari manakah datangnya dan dari mana akan keluar,” jawab Sa’ad.
Dari Wahb bin Munabbih, ia berkata,
من سرَّه أنْ يستجيب الله دعوته ، فليُطِب طُعمته
“Siapa yang bahagia do’anya dikabulkan oleh Allah, maka perbaikilah makanannya.”
Dari Sahl bin ‘Abdillah, ia berkata,
من أكل الحلال أربعين يوماً أُجيبَت دعوتُه
“Barangsiapa memakan makanan halal selama 40 hari, maka do’anya akan mudah dikabulkan.”
Yusuf bin Asbath berkata,
بلغنا أنَّ دعاءَ العبد يحبس عن السماوات بسوءِ المطعم .
“Telah sampai pada kami bahwa do’a seorang hamba tertahan di langit karena sebab makanan jelek (haram) yang ia konsumsi.”
Gemar melakukan ketaatan secara umum, sebenarnya adalah jalan mudah terkabulnya do’a. Sehingga tidak terbatas pada mengonsumsi makanan yang halal, namun segala ketaatan akan memudahkan terkabulnya do’a. Sebaliknya kemaksiatan menjadi sebab penghalang terkabulnya do’a.
Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Melakukan ketaatan memudahkan terkabulnya do’a. Oleh karenanya pada kisah tiga orang yang masuk dan tertutup dalam suatu goa, batu besar yang menutupi mereka menjadi terbuka karena sebab amalan yang mereka sebut. Di mana mereka melakukan amalan tersebut ikhlas karena Allah Ta’ala. Mereka berdo’a pada Allah dengan menyebut amalan sholeh tersebut sehingga doa mereka pun terkabul.”
Wahb bin Munabbih berkata,
العملُ الصالحُ يبلغ الدعاء ، ثم تلا قوله تعالى : { إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُه }
“Amalan sholeh akan memudahkan tersampainya (terkabulnya) do’a. Lalu beliau membaca firman Allah Ta’ala, “Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (QS. Fathir: 10)
Dari ‘Umar, ia berkata,
بالورع عما حرَّم الله يقبلُ الله الدعاء والتسبيحَ
“Dengan sikap waro’ (hati-hati) terhadap larangan Allah, Dia akan mudah mengabulkan do’a dan memperkanankan tasbih (dzikir subhanallah).”
Sebagian salaf berkata,
لا تستبطئ الإجابة ، وقد سددتَ طرقها بالمعاص
“Janganlah engkau memperlambat terkabulnya do’a dengan engkau menempuh jalan maksiat.” (Dinukil dari Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, 1: 275-276)
Kedua: Rizki dan makanan halal mewariskan amalan sholeh
Rizki dan makanan yang halal adalah bekal dan sekaligus pengobar semangat untuk beramal shaleh. Buktinya adalah firman Allah Ta’ala,
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
"Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang thoyyib (yang baik), dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mu’minun: 51). Sa’id bin Jubair dan Adh Dhohak mengatakan bahwa yang dimaksud makanan yang thoyyib adalah makanan yang halal (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 10: 126).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta'ala pada ayat ini memerintahkan para rasul 'alaihimush sholaatu was salaam untuk memakan makanan yang halal dan beramal sholeh. Penyandingan dua perintah ini adalah isyarat bahwa makanan halal adalah pembangkit amal shaleh. Oleh karena itu, para Nabi benar-benar memperhatikan bagaimana memperoleh yang halal. Para Nabi mencontohkan pada kita kebaikan dengan perkataan, amalan, teladan dan nasehat. Semoga Allah memberi pada mereka balasan karena telah member contoh yang baik pada para hamba." (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 126).
Bila selama ini kita merasa malas dan berat untuk beramal? Alangkah baiknya bila kita mengoreksi kembali makanan dan minuman yang masuk ke perut kita. Jangan-jangan ada yang perlu ditinjau ulang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْخَيْرَ لاَ يَأْتِى إِلاَّ بِخَيْرٍ أَوَ خَيْرٌ هُوَ
"Sesungguhnya yang baik tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan. Namun benarkah harta benda itu kebaikan yang sejati?" (HR. Bukhari no. 2842 dan Muslim no. 1052)
Ketiga: Makanan halal bisa sebagai pencegah dan penawar berbagai penyakit
Allah Ta'ala berfirman,
وَآَتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا
"Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang hanii’ (baik) lagi marii-a (baik akibatnya)." (QS. An Nisa': 4).
Al Qurthubi menukilkan dari sebagian ulama' tafsir bahwa maksud firman Allah Ta'ala “هَنِيئًا مَرِيئًا” adalah, "Hanii’ ialah yang baik lagi enak dimakan dan tidak memiliki efek negatif. Sedangkan marii-a ialah yang tidak menimbulkan efek samping pasca dimakan, mudah dicerna dan tidak menimbulkan peyakit atau gangguan." (Tafsir Al Qurthubi, 5:27). Tentu saja makanan yang haram menimbulkan efek samping ketika dikonsumsi. Oleh karenanya, jika kita sering mengidap berbagai macam penyakit, koreksilah makanan kita. Sesungguhnya yang baik tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.
Keempat: Di akhirat, neraka lebih pantas menyantap jasad yang tumbuh dari yang haram
Dari Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ
Siapa yang dagingnya tumbuh dari pekerjaan yang tidak halal, maka neraka pantas untuknya.” (HR. Ibnu Hibban 11: 315, Al Hakim dalam mustadroknya 4: 141. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 4519)
Lihatlah begitu bahayanya mengonsumsi makanan haram dan dampak dari pekerjaan yang tidak halal sehingga mempengaruhi do’a, kesehatan, amalan kebaikan, dan terakhir, mendapatkan siksaan di akhirat dari daging yang berasal dari yang haram.
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
[Allahummak-finaa bi halaalika ‘an haroomika, wa agh-ninaa bi fadh-lika ‘amman siwaak]
"Ya Allah, limpahkanlah kecukupan kepada kami dengan rizqi-Mu yang halal dari memakan harta yang Engkau haramkan, dan cukupkanlah kami dengan kemurahan-Mu dari mengharapkan uluran tangan selain-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3563 dan Ahmad 1: 153. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad

Sabtu, 08 September 2012

Bnpt: Jangan Samakan Aksi Terorisme Dengan Jihad

JAKARTA, KOMPAS.com - Aksi teror masih saja terjadi. Motif agama selalu dikaitkan dengan aksi yang belakangan dilakukan oleh kaum muda ini. Menanggapi hal ini, Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irfan Idris, menekankan, aksi terorisme tidak dapat begitu saja dikaitkan dengan motif agama yaitu jihad.

"Selalu kan, kalau ada aksi terorisme begini, pelakunya santri, lalu dikaitkan dengan jihad. Akhirnya Islam jadi tertuduh," kata Irfan, dalam diskusi Polemik "Teror Tak Kunjung Usai", di Jakarta, Sabtu (8/9/2012).

Seperti diketahui, dalam aksi teror di Solo, tiga terduga teroris yaitu Farhan, Mukhsin, dan Firman, merupakan alumni Pondok Pesantren Ngruki, Jawa Tengah.

Menurut Irfan, aksi terorisme tidak hanya terjadi di Indonesia. Berbagai aksi pengeboman bahkan penembakan juga terjadi di sejumlah negara dan tidak semuanya dilakukan oleh penganut aliran garis keras.

"Kami bertugas melakukan deradikalisasi agar aksi teror minim. Termasuk menempatkan frame berbeda mengenai jihad," ujar Irfan.

Terkait jihad, Irfan mengungkapkan, dari sisi Islam, jihad berarti berjuang di jalan Allah untuk memperjuangkan kebenaran. Akan tetapi, menurutnya, seringkali ada kelompok atau golongan yang menyalahartikan hal tersebut. Ditambah dengan kurangnya pendidikan, jihad menjadi identik dengan aksi teror.

"Sekarang kan jadi bergeser maknanya, jihad itu lebih pada gesekan fisik yang efeknya selalu negatif. Pemahaman seperti ini yang kami coba luruskan," kata Irfan.

Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2012/09/08/12310237/BNPT.Jangan.Samakan.Aksi.Terorisme.dengan.Jihad 

Ayomi Semua Kelompok






oleh ilham khoiri
Dulu, agama Islam beserta berbagai alirannya masuk ke Indonesia secara damai dan masyarakat hidup cukup toleran satu sama lain. Namun, belakangan ini, terutama setelah keterbukaan era reformasi, kekerasan atas nama keyakinan beragama tiba-tiba mudah meletup dan memakan korban.
Bagaimana semua itu bisa terjadi dan apa jalan keluarnya? Zainun Kamal, peneliti teologi Islam dan Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, menilai, pertikaian atas nama teologi atau keyakinan beragama sebenarnya sudah lama mewarnai sejarah. ”Berbagai konflik itu muncul terutama akibat persinggungan agama dengan kepentingan politik,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya yang bersahaja, Rabu (5/9).
Bagaimana asal-usul munculnya keberagaman teologi dalam Islam?
Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, terjadi perdebatan, siapa yang berhak menggantikannya untuk mengurus Madinah yang saat itu menjadi negara kota. Ini mulai masuk politik kekuasaan. Tampil kemudian kelompok Quraish menjadi khalifah berturut-turut, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khatthab, dan Utsman bin Affan. Utsman lantas terbunuh dan Ali bin Abi Tholib menggantikannya. Namun, muncul perlawanan dari kalangan sahabat, bahkan memicu perang.
Keluarga Utsman, yang diwakili penguasa Damaskus, Muawiyah, tidak mengakui kekhalifahan Ali. Dia menuntut pengadilan atas pembunuh Utsman. Pecah perang besar antara pasukan Muawiyah dan Ali. Ketika hampir kalah, pimpinan pasukan Muawiyah mengajak berdamai dengan mengangkat Al Quran dan Ali menerimanya.
Namun, sebagian pasukan Ali, terutama dari wilayah utara, tidak puas atas perdamaian itu dan memberontak. Mereka disebut kaum Khawarij karena keluar dari pasukan dan mengafirkan semua kelompok yang bertikai. Kelompok ini kemudian membunuh Ali.
Muawiyah naik menjadi penguasa. Sebagian pasukan Ali, terutama dari wilayah selatan, tetap setia. Ini cikal bakal Syiah yang meyakini bahwa Ali seorang pemimpin yang ideal. Nabi diyakini memberi petunjuk agar Ali, yang juga menantunya, menggantikannya.
Muncul juga kelompok Murji’ah yang menganggap dosa besar seorang mukmin sebagai urusan Allah. Kelompok kecil ini mendukung pemerintahan Muawiyah. Lahir juga kemudian aliran Mu’tazilah yang sangat rasional dan tak mau terlibat dalam persoalan politik apa pun.
Mu’tazilah berkembang pada masa Abbasiyah dan menjadi ideologi negara serta menindas ideologi lain yang berbeda. Persoalan politik masuk ranah teologi. Ayat-ayat Al Quran diperalat untuk kepentingan kekuasaan.
Bagaimana kemunculan Ahlussunnah?
Ahlusunnah dirintis Abu Hasan Al Asyari yang kecewa dengan paham Mu’tazilah akibat kelewat rasional. Aliran ini ingin kembali pada ajaran Al Quran dan sunah Nabi serta ingin menyatukan jemaah. Kekhalifahan dianggap hasil pemilihan manusia karena tidak ada teks jelas.
Ada lagi aliran Wahabiyah yang dirintis Muhammad bin Abdul Wahab. Aliran ini menjadi paham resmi Kerajaan Arab Saudi sampai sekarang. Kelompok ini berpegang teks Al Quran secara kuat dan cenderung mengesampingkan takwil atau tafsir.
Di India, muncul aliran Ahmadiyah. Mereka meyakini ada nabi setelah Muhammad, yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Sebagian kelompok aliran ini menempatkan Mirza sebagai pembaru saja.
Ketika semakin meluas, ajaran Islam bertemu akidah-akidah lain dan bersinggungan dengan banyak perangkat ilmu pengetahuan, seperti filsafat atau logika. Kajian teologi kian berkembang dengan beragam aliran.
Bagaimana aliran-aliran itu masuk ke Indonesia?
Secara umum, Islam yang masuk ke Indonesia bercorak teologis Ahlussunnah (Suni), fikih Syafi’iyah, dan tasawuf Al Ghazali. Ada juga aliran Syiah di beberapa wilayah di Nusantara. Di Padang dan Bengkulu ada upacara Tabut sebagai simbol kesedihan atas kematian Husain, putra Ali bin Abi Tholib sekaligus cucu Nabi Muhammad.
Hadir juga aliran Wahabi. Ada tiga tokoh asal Sumatera Barat yang belajar Wahabi di Arab Saudi, yaitu Haji Sumanik, Abdul Rahman, dan Haji Miskin, yang kemudian menyebarkannya di Sumatera. Itu memompa semangat perang Padri pimpinan Imam Bonjol.
Kenapa kemudian muncul konflik atas nama teologi keagamaan?
Sebenarnya masyarakat Indonesia menyerap dan beradaptasi dengan semua aliran itu secara damai. Konflik muncul akibat masuknya kepentingan, terutama kekuasaan politik. Pertikaian kepentingan itu kemudian dicantolkan pada teologi keagamaan karena dianggap punya sentimen yang mudah meluapkan emosi dan memobilisasi massa.
Kekerasan massa Suni terhadap kelompok Syiah di Sampang, akhir Agustus lalu, misalnya, berawal dari pertikaian keluarga. Masalah ini masuk dalam kepentingan politik lokal, apalagi menjelang pemilihan bupati. Ketegangan menguat setelah ada fatwa sesat dari sebagian ulama lokal. Tentu ada kelemahan negara dalam mencegah dan menindak kekerasan.
Bagaimana mengantisipasi konflik berlatar belakang keyakinan beragama?
Ulama sebaiknya jangan ikut terlibat dalam politik dan fokus berdakwah untuk menjaga agama sebagai kekuatan moral. Kalau ulama terlalu dekat dengan penguasa, apalagi aliran teologis menjadi ideologi negara, kekuasaan politik cenderung menonjolkan alirannya. Aliran-aliran berbeda cenderung digerus.
Ulama, Kementerian Agama, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebaiknya bersikap netral dan mengayomi semua kelompok. Mereka harus sadar untuk tidak mengintervensi keimanan, apalagi menghakimi. Keimanan itu hak seseorang yang dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Negara melindungi kebebasan beragama dan berkeyakinan.
Semua aliran teologis keagamaan itu produk pemikiran manusia. Apa pun perbedaannya, kita harus menerimanya sebagai kebesaran agama. Ulama sebaiknya menjelaskan berbagai aliran keyakinan dan mengembangkan sikap toleran serta saling menghargai perbedaan. Jangan mudah membuat fatwa sesat terhadap kelompok tertentu, apalagi minoritas. Itu bisa mendorong dan membenarkan kekerasan.
Bagaimana dengan pemerintah?
Pemerintah harus berdiri di tengah, jangan memihak kelompok tertentu. Tindak tegas siapa saja yang melakukan kekerasan. Cegah kekerasan mayoritas terhadap minoritas. Negara bertugas melindungi warga negara yang sudah bayar pajak dan memberikan amanat kepada pemerintah. Negara semestinya punya kekuatan untuk mencegah dan menindak kekerasan. Sayangnya, aparat keamanan kadang tak segera melindungi kelompok minoritas yang jadi korban kekerasan meski sudah mengetahui gejalanya dan mampu melakukannya. Mungkin ada kepentingan politik.
Apa yang bisa dilakukan dunia pendidikan?
Pendidikan harus diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran toleransi, pluralisme, dan multikulturalisme sehingga kita bisa menerima perbedaan dan hidup rukun dengan berbagai kelompok. Jangan sekali-kali menumbuhkan kebencian antarkelompok umat beragama. Ingat, Indonesia ini bukan negara agama.
Evaluasi dan pertimbangkan kembali sejumlah peraturan daerah yang menjadikan syariat Islam sebagai hukum formal daerah. Kembangkan pemahaman Islam yang rahmatan lil’alamin (memberi rahmat bagi semua). Jangan biarkan Islam dibajak oleh kekuatan penuh kekerasan, garang, dan kejam.